Pentingnya Akil Baligh secara Bersamaan

 Pentingnya Akil Baligh secara Bersamaan

Oleh 

Kelompok 20 (Lampung – Lamongan)

Apa itu Aqil? Aqil berasal dari bahasa Arab yang artinnya berakal, cerdik dan pandai. Kesiapan atau kedewasaan secara psikologis, emosional, rasional, sosial dan finansial.

Apa itu baligh? Kondisi dimana seseorang sudah mencapai usia tertentu dan dianggap dewasa secara biologis.

Baligh bisa ditandai dengan umur. Menurut syafi’i baligh laki-laki dan perempuan adalah 15 tahun, menurut Hanafi balig laki-laki itu minimal 12 tahun dan 9 tahun untuk perempuan. Batas maksimalnya adalah usia 18 tahun untuk laki-laki dan 17 tahun untuk perempuan. Menurut Maliki, batasan baligh adalah genap 17 tahun atau genap 18 tahun.

Baligh juga ditandai dengan aktifnya organ reproduksi. Anak laki-laki ditandai dengan mimpi basah. Bagi perempuan ditandai dengan sudah haid.

Apa sih pentingnya aqil sebelum / saat baligh :

1.       Baligh melahirkan nafsu, diperlukan aqil untuk mengendalikan.

2.       Mempersiapkan diri utk mengemban amanah khalifah

3.       Setiap diri memahami hak dan kewajiban sbg hamba Allaah.

4.       Agar setiap diri siap memikul beban kehidupan seutuhnya seperti definisi mukallaf itu sendiri.

 

Baligh yang tidak disertai akil :

1.       Generasi muda krisis identitas/bingung tujuan hidup

2.       Problem oriented. Artinya tidak fokus mencari solusi

3.       Perilaku kekerasan dan bullying

4.       Penyimpangan perilaku seksual

5.       Gangguan kesehatan mental (kecemasan, galau dan depresi)

 

Peran orang tua dalam keseimbangan Aqil Baligh:

1.       Ortu harus menyadari pendidikan harus dikembalikan ke rumah

2.       Didiklah anak-anak di kehidupan nyata

3.       Pendidikan yang berani & tega, tegas, konsisten. BUKAN KASAR, BUKAN KERAS.

4.       Ajari anak sejak usia 7 tahun untuk bertanggungjawab atas perbuatan sendirinya.

5.       Ajari anak kita menalar, berpikir, memecahkan masalah, mengambil keputusan & memikul resiko atas keputusan yang ia buat.

6.       Support anak untuk berorganisasi.

7.       Ajari anak untuk mencari nafkah (khususnya anak laki-laki).

8.       Kembalikan peran ayah dalam pendidikan anak-anaknya.

 

Persiapan menuju Aqil Baligh

1.       Persiapan ideologis

a.       Dibawa shalat berjamaah

b.      Diikutsertakan ketika orang tua menghadiri kajian

c.       Diterangkan mana yg boleh/ tidak, mana yg benar/salah

d.      Orang tua diharapkan sudah lebih paham agama

2.       Persiapan Psikologis

a.       Hangatkan komunikasi orang tua dan anak

b.      Capailah kesepakatan

c.       Puaskan masa bermain anak

d.      Luangkan waktu berkualitas

e.      Vitamin A (Ayah) terutama kepada anak perempuan harus sering dipuji oleh ayah, agar tidak mudah dirayu laki-laki lain.

f.        Perbanyak dating dengan anak secara bergantian.

3.       Persiapan Sosial

a.       Bimbing anak untuk berpikir secara kritis dan realistis

b.      Arahkan anak untuk tidak melakukan sesuatu tanpa tujuan atau sia-sia

c.       Selalu jelaskan tujuan acara/kegiatan yang keluarga lakukan

4.       Persiapan khusus anak perempuan

a.       Menstruasi: apa yg terjadi, persiapannya, bagaimana cara membersihkan diri, dan hukum fiqhnya untuk muslim

b.      Tanggungjawab perempuan yang sudah baligh

c.       Perubahan bentuk tubuh, adab berpakaian menurut agama

d.      Adab pergaulan dan resiko kehamilan

e.      Kriteria memilih pasangan sesuai value yang dipegang

f.        Mulai mengajarkan tugas sebagai istri dan ibu secara bertahap

5.       Persiapan Khusus anak laki-laki

a.       Tanda pubertas secara fisik termasuk reproduksi sperma, serta kemungkinan terjadinya ejakulasi saat tidur, bagaimana membersihkan diri dan hukum fiqhnya untuk muslim.

b.      Tanggungjawab laki-laki yang sudah baligh.

c.       Perubahan fisik, cara merawat diri, berpakaian dan kebersihan.

d.      Adab pergaulan

e.      Kriteria memilih pasangan

f.        Mulai mengerjakan tugas suami dan ayah secara bertahap

Insight positif yang saya temukan pada kelompok ini adalah saya mengevaluasi persiapan akil baligh saya sebelum remaja. Ternyata banyak sekali di dalam diri saya persiapan-persiapan yang belum terpenuhi sehingga saya bisa mengaitkan dengan proses kehidupan yang telah saya alami sampai saat ini. Pembelajaran di IIP khususnya pendidikan seksualitas, mengajarkan saya untuk berhati-hati memilih pasangan nanti terutama mencari sosok ‘ayah’ yang bisa menutrisi vitamin A kepada anak-anaknya kelak. Saya berharap dengan hikmah saya pelajari ini, saya bisa memutuskan rantai yang salah atau pola yang tidak tepat di kehidupan saya kepada anak-anak saya nanti. Kemudian, bisa membimbing anak-anak saya dengan ruh Islam, ilmu yang bermanfaat, keluarga yang kokoh, kompak dan bahagia. Aamiin ya Rabb.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lagu Sentuhan Tidak Boleh

Mengajari Adik tentang Sentuhan Tidak Boleh (Tantangan hari ke - 4)

Contoh Butis Asesmen Literasi